Rabu, 03 Agustus 2011

MY VALUABLE MOMMENT


Jum’at, 28 Juli 2011
Pukul 11 siang, bukanlah waktu yang tepat untuk bepergian menggunakan angkutan umum, apalagi di tengah kota Tangerang yang sedang dalam musim kemarau ini. Walaupun berada di dalam kendaraan umum, aku masih bisa merasakan panasnya sengatan matahari yang masuk melalui jendela kaca yang bertengger di belakang dan samping kiriku.  
Angkutan umum yang aku tumpangi berlaju dengan kecepatan normal, hingga ketika mendekati  kawasan pusat Pendidikan, laju kecepatan pun mulai menurun. Memang sudah tradisi di kalangan para pengendara mobil angkot untuk berhenti sejenak (nge-tem) jika melewati kawasan yang sedang ramai, berharap agar ada penumpang yang naik.
Setelah beberapa menit ‘mengetem’, kendaraan pun mulai berjalan perlahan. Dari dalam kendaraan, aku bisa melihat ada 3 orang anak laki-laki yang umurnya ku perkirakan berkisar antara 9-10 tahun berdiri di depan sebuah sekolah dasar yang terbilang cukup elite karena sebagian besar muridnya selalu di antar- jemput oleh orang tuanya menggunakan mobil mewah. Ku perhatikan mereka sedang berbincang ringan khas anak kecil pada umumnya.
Namun dari ketiga anak tersebut, ku perhatikan satu di antara mereka terlihat sedikit berbeda dari yang lain. Anak ini berpenampilan sederhana dengan pakaian seragam yang rapih namun agak sedikit kusam, kulitnya yang coklat kehitaman, & rambut yang warna hitamnya sudah agak memudar akibat sengatan matahari, serta di kedua tangannya memegang sebungkus batagor & seplastik es. Hal-hal tersebut membuat anak ini terlihat sangat timpang di banding kedua temannya yang berpenampilan serba bersih dengan wajah oriental, kulit putih dan rambut hitam pekat. Dan tepat  pada Saat itu, aku menyimpulkan bahwa dua diantaranya adalah  anak yang berasal dari kelas atas, sedangkan si anak berkulit coklat kehitaman itu hanya berasal dari kelas menengah biasa.
Kendaraan yang kutumpangi semakin bergerak lambat  mendekati ke tiga anak laki-laki tersebut. Sampai salah satu dari mereka menyadari bahwa ada angkot yang datang mendekat, mereka bertiga serempak menyetop angkotnya. Yang aku bingungkan, mengapa mereka menyetop angkot, padahal sudah ada dua mobil pribadi yang  berdiri gagah di samping mereka?
Setelah angkot berhenti tepat di depan mereka, si anak berkulit coklat kehitaman itupun langsung lompat menaiki angkot sambil berkata kepada kedua temannya  : “besok lagi yah?”  dan setelah anak itu duduk nyaman di tempatnya, dia sempat menengok ke belakang dan melambaikan  tangannya tanda perpisahan kearah kedua temannya dari balik kaca angkot. Angkot kembali merangkak perlahan melewati beberapa mobil mewah yang parkir sembarangan di tepi jalan . Anak itu terus menghadap ke belakang  memerhatikan  teman-temannya yang semakin menjauh. But so unpredictable, kedua temannya berlari-lari kecil mengikuti laju angkot  seakan  tak ingin berpisah dengan  temannya yang satu itu. Si anak yang di dalam angkot pun tersenyum-senyum melihat kelakuan temannya . tanpa di sadari aku pun ikut tersenyum juga melihat ulah  mereka, melihat kesetiaan sebuah persahabatan yang sudah tertanam dalam diri seorang bocah yang tak peduli dari mana mereka berasal dan status strata sosial mereka.
Senyum  si anak berkulit coklat kehitaman  itupun  semakin merekah terharu, namun dengan segera ia mambalikkan badan dan membuka kaca jendela yang ada di sebelahnya, lalu mengeluarkan sedikit kepalanya sambil berkata : “ udah, besok aja lanjutin  lagi ya. Udah, udah. Dadaah..”
 Lalu ia langsung menutup kaca jendela rapat-rapat dan sekali lagi melambaikan tangan ke teman-temannya. Rupanya ia tidak tega melihat temannya  berlari tergopoh-gopoh sambil membawa tas besar berisi setumpuk buku di punggung mereka.
Namun, kedua temannya tetap berlari  sambil melambai-lambaikan tangan tiada henti ke arah si anak berkulilt coklat itu. Hingga pada akhirnya, langkah mereka terhenti seiring bertambahnya laju kecepatan  angkot yang aku & si anak berkulit coklat itu tumpangi. Tapi, tangan mereka masih terus melambai & pandangan mereka masih tertuju ke arah angkot yang semakin menjauh.
Setelah kedua temannya sudah tidak terlihat lagi, si anak berkulit coklat itu pun kembali duduk nyaman di tempatnya & kembali melahap batagornya yang beberapa saat tadi tidak sempat di nikmatinya. 
Melihat moment tersebut,  membuatku  teringat  kembali akan kehidupanku. selama ini, dari kecil hingga seperti sekarang, aku belum pernah menemukan hubungan persahabatan sekental mereka. Hubungan persahabatanku  tak selalu berjalan mulus sempurna. Padahal, status sosial kami tidak terlalu berbeda. Tetapi, kenapa ketiga anak tadi dengan status sosial yang sangat jelas terlihat berbeda, bisa menyadarkanku bahwa mereka masih hijau dan telah  memiliki  apa yang selama ini ingin ku miliki.
Dan hari ini aku kembali mendapat pelajaran  berharga untuk bekal ku menjalani kehidupan yang tak terduga ini. Aku menganggap hal ini sebagai moment yang sangat berharga. A  valuable momment..

Minggu, 24 Juli 2011

kebanyakan orang di dunia ini selalu merasa takut akan kematian. Padahal, sesuatu yang paling dekat dengan kita bukanlah apa yang ada di sebelah kita, melainkan kematian itu sendiri. jadi, untuk apa di takuti? toh kemana pun kita pergi, dia akan selalu mendamping kita. sekuat apapun ilmu yang kita punya untuk menghindari kematian, maka ilmu itu sendiri pula yang akan membunuh kita.

persiapkan diri kita dari sekarang. untuk menghadapi hal yang (menurut kebanyakan orang) mengerikan itu.